Cross Column

Contoh Cross Column
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

March 2, 2015

Menjaga Semangat Dakwah



Menjaga Semangat Dakwah

Assalamualaikum ustadz,

Ane termasuk pndatang baru dalam dunia dakwah, ilmu ane belum tinggi, tapi ane sudah tahu mengenai tuntutan dakwah ini ustadz, bahwa setiap muslim adalah wajib untuk bisa ber-amarma’ruf nahi munkar. Nah bagi orang yg sudah tahu kwjibanya, dan ia meniggalkannya kan dosa (iya kan?). Nah dari situ timbul masalahnya, ane tahu bahwa begitu luas medan dakwah dan bgitu terjalnya medan dakwah serta sulitnya melewati rintangan-rintangan di dalamnya, itu yang mendorong ane untuk terjun ke dunia dakwah, tapi ane belum punya dasar yang kuat, hapalan surat sedikit, ilmu fiqih, hadist-hadist banyak yang tidak tahu, terus ilmu manajemen organisasi juga kurang. Ane takut, karena tidak bisa menghadapi itu, terus pilihan ane adalah mundur dari dakwah (jangan sampai terjadi).

Pertanyaannya: bagaimana caranya menjaga semangat dakwah itu? jazakallah ustadz.

Waalaikumussalam Wr Wb



Da’wah atau menyeru kepada Allah swt merupakan sebuah kewajiban berdasarkan firman Allah swt :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl : 125)

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ
Artinya : “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,” (QS. Yusuf : 108)

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Imran : 104)

Seorang da’i didalam melaksanakan kewajiban ini dituntut memiliki pengetahuan tentang keagamaan yang baik agar da’wahnya tidak jatuh kedalam kesalahan. Sebagaimana diketahui bahwa amal mengikuti ilmu dan ketika suatu amal tidak dibangun diatas landasan ilmu maka kerusakan yang ditimbulkannya akan lebih besar dari manfaat yang dihasilkannya.
Untuk itu seorang da’i diharuskan memahami pokok-pokok aqidah dan keislamannya lalu tsaqofah fikriyah sebagai bekal didalam da’wahnya.

Syeikh Mustafa Masyhur menyebutkan bahwa ada tiga tsaqofah fikriyah yang harus dimiliki seorang da’i :
1. Memahami islam secara betul dan menyeluruh yang memungkinkan dia dapat melaksanakan islam dengan pelaksanakan yang benar terhadap dirinya, dan dengan itu pula dia dapat menyampaikan islam dengan baik kepada orang lain. Dia mampu melaksanakan islam dan menyampaikan secara total, murni dan orisinil.
2. Para da’i mesti mengetahui kondisi dan situasi dunia islam dahulu dan sekarang, mengenal musuh-musuh islam dan mengetahui cara dan tindak-tanduknya. Dia juga harus mengetahui peristiwa-peristiwa aktual yang mempengaruhi kondisi kaum muslimin dari dekat atau jauh. Mengetahui siapakah golongan yang bekerja di bidang da’wah islam, kecenderungan dan cara-cara mereka, bagamana bentuk kerja sama yang perlu dibuat bersama-sama dengan mereka, dan persoalan-persoalan lain yang patut diketahui oleh orang-orang yang aktif dalam gerakan islam.
3. Para da’i harus menyampaikan untuk memantapkan spesialisasi ilmu yang berkaitan dengan urusan hidup manusia seperti : ilmu kedokteran, teknik, pertanian, ekonomi, perusahaan dan lain-lainnya.

Oleh karena itu bagi seorang kader aqdah ia harus berusaha memperbaiki dan meningkatkan spesialisasi ilmu yang dimilikinya secara professional agar dia mendapat tempat dalam masyarakat dan dapat mengisi tempat-tempat kosong pada saat kita membangun dan menegakkan daulah islamiyah. Patut di sini disebutkan bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan modern sekarang ini telah dipelopori oleh para cendekiawan muslim zaman dahulu. Karena agama islam mendorong umatnya untuk mencari ilmu dan belajar serta dapat menghubungkan ilmunya dengan al Kholik.
Tentunya mustahil bagi seseorang mencapai tingkat kesempurnaan didalam keilmuannya dikarenakan luasnya ilmu Allah swt. Dengan begitu hendaklah setiap dai menyampaikan apa-apa yang telah diketahuinya secara baik kepada orang-orang yang belum mengetahuinya, dan inilah hakekat dari da’wah. Dan dilarang bagi setiap da’i untuk menyampaikan sesuatu yang belum diketahui ilmunya secara baik khawatir terjatuh didalam kasalahan berdasarkan keumuman hadits Rasulullah saw,”Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhori) Satu ayat yang betul-betul diketahinya secara baik adalah amanah yang ada di pundaknya untuk disampaikan kepada orang-orang yang belum mengetahui satu ayat tersebut.
 
Turun naik atau berkurangnya semangat didalam sebuah amal islami adalah sesautu yang biasa sebagaimana keimanan yang memiliki masa-masa naik dan masa-masa turun. Akan tetapi yang tidak diperbolehkan adalah ketika hilang sama-sekali semangat untuk beramal islami, sabda Rasulullah saw,”Setiap amal mempunyai masa semangat (syirroh) dan setiap masa semangat terdapat pula masa turun semangat (fatroh). Barangsiapa yang masa lemah semangatnya masih berada pada sunnahku maka ia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang masa lemah semangatnya berada pada selainnya maka ia celaka” (HR. Ahmad)

Diantara hal-hal yang bisa digunakan didalam menjaga semangat berdakwah adalah :
1. Mengetahui secara baik akan keutamaan da’wah diantara aktivitas-aktivitas lainnya di sisi Allah swt, sebagaimana firman Allah swt :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat : 33)

Sabda Rasulullah saw,”Seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui dirimu maka hal itu lebih baik bagimu daripada onta merah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

2. Menyadari bahwa Allah hanya memerintahkan kepada kita untuk menyampaikan kepada manusia dan tidak membebankan kita agar mereka semua menerima da’wah kita karena urusan hati manusia beada didalam genggaman Allah swt, sebagaimana sabda,”Sesungguhnya hati manusia berada diantara dua jemari dari jari jemari Yang Maha Pengasih dan Dia lah yang membolak-balikkannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Artinya : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qoshosh : 56)

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap amal da’awiy seseorang meskipun hanya sedikit dari manusia yang menerima dan menyambut da’wahnya.

3. Hendaklah didalam menegakkan kewajiban berda’wah ini tidak sendirian akan tetapi berada didalam suatu barisan atau jama’ah, bersama orang-orang yang berjuang menegakkan agama Allah di muka bumi ini sepanjang pagi dan petang, yang kehidupan mereka betul-betul diberikan untuk kejayaan islam dan kaum muslimin, orientasi perjuangannnya adalah kebahagian akherat bukan kenikmatan dunia yang sering kali menipu manusia. Sabda Rasulullah saw,”Tangan Allah bersama jama’ah.” (HR. at Tirmidzi)

Dengan merekalah kita bisa berbagi perasaan suka dan duka didalam lapangan da’wah yang menjadi bunga-bunganya yang kelak akan kita cium harumnya di surga Allah swt.

Wallahu A’lam

[disalin dari rubrik ustad menjawab di Eramuslim. image.]

other link :
Dakwah untuk Pemula
read more...

February 18, 2010

Sang Luar Biasa



Menjadi Sang Luar Biasa terkadang untuk sebagian besar manusia bisa menjadi sangat melelahkan atau mungkin membosankan. Maka kebanyakan manusia hanya ingin menjadi orang 'Orang Biasa', dan bagi sebagian orang tampak menyenangkan. Mereka berpikir alangkah senangnya menjalani hidup tanpa beban apa-apa dan mengalir begitu saja seperti air. Mereka juga berpikir menjadi orang biasa merupakan cara hidup yang paling aman karena jauh dari masalah dan memang dijauhi masalah. Suatu cara hidup yang indah!
Biasanya cita-cita menjadi Orang Biasa dimiliki oleh orang-orang yang Luar Biasa. Lho kok bisa begitu? Iya jika kita perhatikan orang luar biasa itu, baik itu yang luar biasa masalahnya, luar biasa pusingnya, luar biasa tekanannya, luar biasa dilema hidupnya dan lain sebagainya, Orang-orang Luar Biasa tersebut mungkin sudah tak sanggup dan lelah menghadapi keluarbiasaannya. Sehingga jadilah dia berkeinginan untuk melenyapkan semua keluarbiasaannya itu. Mari kita ambil contoh dari seorang artis terkenal. Bila anda bertanya padanya lebih enak yang mana, menjadi terkenal atau tidak terkenal maka mereka akan menjawab dari a sampai z, alias macam-macam alasan dari jawaban mereka. Tetapi masih terekam dalam ingatan saya beberapa yang mengatakan "...lebih enak tak terkenal. Bisa jalan kemana-mana tanpa diganggu, bisa punya privasi, tidak digosipkan ...bla..bla..bla..." Begitulah kira-kira. Bisa dilihat sang artis pun jengah menghadapi betapa luar biasa keterkenalannya. Jadilah dia mulai berkeinginan jadi orang biasa saja. Yang tidak terkenal, yang bebas punya privasi, dan lain sebagainya.
Namun sebenarnya dibalik betapa peliknya masalah diatas, ada hal yang menarik yang bisa diambil dari Orang-orang Luar Biasa. Sebagian besar dari orang-orang itu, selain besar pula polemik hidupnya, ternyata mereka memang Luar Biasa pula potensinya. Yap, itu bener loh! Percaya nggak percaya (jadi teringat sebuah tayangan misteri gombal di televisi waktu yang lalu) secara general itulah yang banyak terjadi di lapangan. Kita bisa kok kembali mengambil banyak contoh. Baik itu politisi, dokter, insinyur, bahkan artis sekalipun. Merekalah orang-orang yang punya potensi besar dan masalah yang besar pula. Merekalah Sang Luar Biasa! Pada Surat Al-Baqarah 286, secara tak langsung hal itu pun sudah disiratkan.

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. 2:286)"

Manusia tidak akan dibebani sesuatu kecuali dengan kemampuannya. Hmmm,,, adil kan? Masalah besar potensi besar, bukankah itu sesuatu kompensasi yang wajar? Namun jika kita berpikir sebagai seorang Muslim, mungkin ada baiknya kita merenung lebih dalam tentang ayat Al Baqarah 286 itu. Kira-kira apa maksudnya Allah dengan tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya? Bukankah itu berarti setiap masalah yang datang sebenarnya bisa kita diatasi? Dengan kata lain masalah-masalah yang menurut kita luar biasa peliknya pun aslinya BISA kita atasi. Bukankah Allah telah MENJAMIN itu? Menurut saya cita-cita jadi Orang Biasa sangatlah kurang bijaksana. Sebab apalah artinya kita sebagai seorang Muslim yang telah dianugerahi sesuatu yang luar biasa dalam diri kita tetapi kita tak mau menggunakannya? Bukankah itu namanya sia-sia? Bukankah itu sangat disayangkan. Apakah kita tega menyia-nyiakan apa yang telah Allah berikan? Apa hidayah yang kita terima datang karena Allah ngasal memberikannya pada kita. Tentu Allah punya maksud untuk semua itu kan!? Pasti Allah Yang Maha Tahu telah melihat sesuatu pada diri kita, sehingga Dia memberikan hidayahnya pada kita. Kita dapat Hidayah karena ada sesuatu yang Luar Biasa dalam diri kita yang kiranya bermanfaat untuk umat! Teruntuk Orang-orang Luar Biasa, memang hidup ini sulit. Tetapi sejarah mana yang mengatakan sulit tak bisa diatasi? Masa-masa kebangkitan Islam yang pertama pun luar biasa sulitnya. Tetapi yang membuatnya berhasil dilampaui adalah kehendak Allah yang luar biasa teruntuk Orang-orang Luar Biasa. Tetaplah anda jadi Sang Luar Biasa. Janganlah sekali-kali berkeinginan jadi orang biasa. Jangan kita lupa, Surga itu tidak Murah, Bung! So... masihkah anda bercita-cita jadi 'Orang Biasa'?
read more...